Ibrani 9:28 demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.
Pada zaman
lampau, terdapat satu perguruan kungfu yang sangat terkenal di seluruh dunia.
Pendirinya adalah seorang guru yang dikenal bijaksana dan terutama kungfunya
yang sangat hebat sehingga tak ada satu pun pendekar yang bisa mengalahkannya.
Tetapi sang guru tidak menghendaki permusuhan apalagi perkelahian, itulah
sebabnya sang guru disegani oleh para pendekar-pendekar ilmu putih maupun ilmu
hitam.
Hari
berganti bulan dan bulan berganti tahun, namun sang guru belum mendapatkan
murid yang tepat untuk mewarisi kehebatan kungfunya. Sang guru mulai khawatir,
karena usianya sudah semakin tua, sehingga sang guru mengumpulkan semua
murid-muridnya yang jumlahnya ratusan.
Lalu sang
guru membuat sayembara khusus untuk para murid-muridnya. Sayembara ini memakan
waktu sebulan karena jumlah murid yang cukup banyak. Namun dari hasil akhir
pertandingan ada tiga jumlah murid yang tak terkalahkan karena kungfu
ketiga-tiganya seimbang. Sang guru bingung dan memikirkan cara lagi untuk
menyeleksi ketiga murid tersebut, sebab dari ketiga murid, hanya satulah yang
bisa menjadi pewaris dari pada kungfu dan kebijaksanaan dari sang guru.
Setelah
berhari-hari berpikir akhirnya sang guru menemukan cara yang tepat. Dipanggilah
ketiga murid tersebut secara bergiliran sesuai usia mereka :
“Murid
pertama, apa yang akan engkau lakukan supaya engkau memiliki kungfu yang tak
tertandingi?” Tanya sang guru
“saya akan
berlatih kungfu setiap hari, bahkan waktu liburku akan saya gunakan untuk
berlatih kungfu, dan saya akan menambahkan jam latihan saya hingga lima belas
jam perhari secara konsisten” jawab murid pertama
Sang guru
menatapnya dengan tangan yang mengelus-elus lembur janggutnya lalu berkata:
“Bagus, kau sangat bersemangat. Keluarlah”
Lalu
masuklah murid kedua dan bertanyalah sang guru:
“Murid kedua
apa yang akan kamu lakukan supaya kamu memiliki kungfu yang tak terkalahkan
oleh pendekar-pendakar yang lain?” sang guru bertanya dengan pertanyaan yang
sama
“Guru yang
mulia, ijinkanlah saya menjawab?”
Sang guru
tersenyum dan mengangguk sebagai isyarat untuk mengiyakan permintaan murid kedua
“Guru yang
mulia, untuk menjadi petarung yang tak terkalahkan, saya akan belajar kungfu
tanpa kenal lelah, bersemedi di tempat-tempat suci dan kalau perlu saya akan
mengembara di seantero jagad raya ini untuk belajar kungfu dari para
pendekar-pendekar hebat lainnya” jawab sang murid kedua.
“sang guru
menundukkan kepalanya dan diam untuk beberapa saat. Lalu mengangkat kembali kepalanya
bersamaan dengan senyuman khas yang terukir alami diwajahnya lalu berkata.
“Murid kedua engkau sangat disiplin dan memiliki niat belajar yang tinggi,
lanjutkan perjalananmu, mudah-mudahan engkau menggapai semua impianmu”
Lalu
masuklah Murid yang terakhir yaitu murid yang ketiga. Sang guru berdiri dan
mendekati muridnya yang berlutut tepat dihadapannya. Sang guru menepuk kecil
pundak muridnya dan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kembali lewat
hidungnya juga lalu mulai berbicara.
“murid
ketiga, engkau paling muda dari kedua
muridku yang telah memiliki kungfu yang paling hebat diantara ratusan muridku
yang lain. Sekarang usiaku telah lanjut, aku pun sudah tidak muda lagi,
kematian rasanya begitu dekat denganku, namun sebelum aku mati, aku ingin
bertanya padamu. Apakah yang akan engkau lakukan supaya engkau memiliki kungfu yang
tidak terkalahkan?” Tanya sang guru
Dengan
posisi yang tetap berlutut, murid ketiga memandang gurunya dengan pandangannya
yang ragu, lalu menjawab pertanyaan sang guru. “Guru saya tahu Guru adalah
pendekar satu-satunya yang memiliki kungfu yang tidak tertandingi oleh
pendekar-pendekar yang lain, sehingga guru sangat disegani di semua perguruan
kungfu. Semua pendekar yang tua sampai yang muda sangat mengangumi engkau.
Mendengar namamu saja pendekar-pendekar ilmu hitam menjadi gemetar dan
ketakutan. Bukan saja kungfumu guru, melainkan karena kebijaksanaanmu, itulah
juga sebabnya para pendekar diseluruh dunia berziara di perguruan ini hanya
untuk mendengar guru berbicara, bahkan bukan itu saja, malahan raja-raja
diseluruh dunia datang ke tempat ini hanya untuk bertemu denganmu guru.”
Sang guru
kembali duduk lalu bertanya. “Lalu apa yang akan engkau lakukan supaya bisa
memiliki kungfu yang hebat?” sang guru mengulangi pertanyaannya
Murid ketiga
memandang sang guru, kali ini pandangannya berbeda, tatapannya seperti seorang
anak memandang ayahnya. “Guru, saya takkan melakukan apa-apa!” jawab sang
murid.
Sang guru
mengerutkan dahinya dan bertanya sekali lagi. “lalu? Kalau kamu tidak melakukan
apapun, bagaimana mungkin kamu bisa menjadi hebat?”
“Iya guru,
saya tidak akan melakukan apapun, atau mencari kepada siapapun. Mungkin
jawabanku terdengar aneh dan agak sombong, seolah-olah saya yang terhebat.
Tetapi bukan itu maksud saya. Untuk menjadi seorang pendekar yang tak
terkalahkan ada banyak orang mencarinya kemana-mana bahkan mengembara kemana
saja hanya untuk mendapatkan hal tersebut, ada pula yang bersemedi di gua-gua
terlarang bahkan ada juga yang sampai tidak makan selama berbulan-bulan, hanya
untuk satu hal, supaya mereka menjadi sakti. Akan tetapi itu tidak akan saya
lakukan.”
Sang guru
mulai penasaran dan menatap muridnya serius. Muridnya melanjutkan jawabannya.
Guru seperti apa yang saya katakan tadi, bahwa semua kehebatan dan
kebijaksanaan yang dicari-cari oleh para pendekar-pendekar dan raja-raja di
dunia ini tidak ada diluar sana, semua hal itu ada pada guru. Itulah sebabnya
saya tak perlu mencari lagi atau melakukan sesuatu supaya saya memilikinya.
Guru pernah berkata kepada kami bahwa siapa yang meminta akan mendapatkannya,
bahkan guru pun pernah memberikan ilustrasi yang menurut saya sangat menarik. Perkataan
guru seperti ini : bapa manakah diantara
kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepadanya itu
ganti ikan? Atau jika ia minta telur, akan memberikannya kalajengking? Dan buat
saya guru melebihi pelatih kungfu saya, guru adalah bapa saya.
Mendengar
semua perkataan murid itu, sang guru menjadi begitu terharu, lalu sang guru pun
berdiri dan sedikit berlari dia mendekati muridnya, lalu memegang kedua
tangannya dan membantu muridnya berdiri, seketika itu juga sang guru memeluk
muridnya. Muridnya pun ikut memeluk dengan erat gurunya. Lalu sang guru berkata, nak engkau
sangat mengenalku, bahkan engkau mengerti setiap perkataanku, saat ini juga
telah kuputuskan bahwa engkaulah yang akan menerima semua apa yang aku miliki
dan apa yang menjadi milikku adalah milikmu juga. Ingatlah nak, semua hal itu
telah kuberikan padamu saat ini juga.
Lalu setahun
kemudian matilah sang guru, namun kehebatan, kebijaksanaan bahkan semua miliki
dari pada sang guru diberikan kepada murid ketiga.
Cerita ini
hanyalah sebuah ilustrasi yang disampaikan Tuhan kepada saya. saya masih ingat
jelas bagaimana Tuhan mengambarkan
ceritanya sehingga menjadi begitu hidup. Tahun-tahun yang lalu saya mengalami
pergumulan yang begitu besar, saya terus saja berusaha untuk menjadi orang
benar, kudus, dan suci dihadapan Tuhan. Saya berpuasa, berdoa, dan membaca
alkitab hanya untuk menjadi lebih benar, lebih kudus, dan supaya bisa dipakai
Tuhan. Akan tetapi saya menjadi begitu lelah dengan semua upaya-upaya saya.
Lalu saya
sadar bahwa sampai kapanpun saya takkan bisa mencapainya. Saya pun semakin
frustasi, tertekan, dan bahkan putus asa. Tetapi syukur kepada Tuhan karena
kebenaranNya memerdekakan saya dan kebenaranNya adalah semua yang saya upayakan
sudah menjadi bagian dari hidup saya sepenuhnya. bukan karena perbuatan
melainkan kasih karunia.
1korintus 6
: 11
Dan beberapa
orang diantara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu “telah” memeberi dirimu
disucikan, kamu “telah” dikuduskan, kamu “telah” dibenarkan dalam nama Tuhan
Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.
Dari ayat
ini saya menemukan kebenaran bahwa saya telah disucikan, telah dikuduskan, dan
telah dibenarkan di dalam Kristus, sekali untuk selamanya. Bahkan saya telah
lunas dibayar.
Sebelum
memahami hal ini banyak orang seperti murid yang pertama dan murid yang kedua.
Mereka selalu berpikir bahwa dengan berdoa lebih tekun, membaca firman secara
konsisten dan berpuasa lebih rajin akan menjadikan mereka lebih benar, lebih
kudus, dan layak dihadapan Tuhan. Semua upaya dikerakan hanya untuk satu hal,
mencari perkenanan Tuhan.
Kabar
baiknya, Kristus telah mengerjakan semua itu lewat kematian-Nya di kayu salib.
Ucapan’Nya sudah selesai diambil dari bahasa yunani, tetelestai, telos yang
artinya bukan sekedar selesai. Tetapi tergenapi, tercapai.
Semua usaha,
kerja keras, upaya bahkan perjuangan kita, telah diselesaikan’Nya dua ribu
tahun yang lalu. Kita pun diajak untuk
masuk di dalam perhentian-Nya, seperti yang tertulis pada kitab ibrani 4 :
10-11, silakan dibaca.
Kesimpulan
dari tulisan ini adalah, berhentilah berusaha mencari pembenaran, pengudusan,
dan penyucian diri dengan metode-metode agama, semua hal itu kelihatannya
rohani, namun kebenarannya hal itu tidak lebih dari pada ritual-ritual agamawi.
Bukan berarti berdoa, berpuasa dan membaca alkitab itu salah. Ketiga hal ini
tak pernah saya tinggalkan, namun saya mengerjakannya bukan lagi dengan sebuah motivasi
agar menjadi lebih rohani, melainkan sebagai bentuk ucapan syukur atas apa yang
telah dikerjakan Kristus di kalvari.
Doa saya :
Ayah biar Engkau menyingkapkan kekayaan akan kasih karuniaMu yang begitu melimpah dan memberikan pengertian yang benar akan pengorbananMu di kayu salib.
Imanuel.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar